Minggu, 11 Januari 2026

 

USAH USANG

Oleh : Rozakul Khayat

 

Kembali dituliskan pada apa yang sebelumnya terlewati.

Setip itu tak guna, karna tak ada bukti terjadi.

Ya katanya, namun setelahnya titik tak berawal lagi.

Jeda bukan lagi dengan spasi, berganti lembar baru bahkan sering terjadi.

Lantas apakah ini akan terbaca dan dibaca lagi?

 

Ada koma di setiap jalan, 

Menghela sebentar untuk cerita yang baru dimulai

Ada awan yang menggelap, 

Menjelma semua harapan pada tanah yang gersang

Ada pula akar yang tak nampak, 

Menggegam erat, menyerap dan menerus untuk tumbuh

Usah melihat, usang adanya yang nampak

Oleh mata yang hanya melihat diri,

Tanpa tau banyak hal bersikeras untuk membantunya berdiri

 

Bahkan sebelumnya pernah demikian

Tercatat rapi dan terngiang-ngiang

Mungkinkah tabiat atau seolah dibuat

Birumu akan menghijau terpancar kuningnya

Atau kembali setelahnya?

 

Usah lagi melihat, Usang yang nampak

Menyusun lagi warna dalam gelap

Berkilau tak terpancar, Redup hilang senyap

Merasa dengan sederhana, Memberi seperti biasanya

 

Semua akan menemukannya sendiri

Berbenah bukan karena lain arti

Warnanya jelas berbakti

Redupnya berbekas termaknai

 

(Lampung, Januari 2026)

Senin, 13 November 2023

Puisi Kembali "K.C.A.B"


 K.C.A.B

Berpadu rayu suasana

Beriringan serima seirama

Mengantarkan asa pada masanya

Mendampingi ulat di dalam pupa

Sejatinya, semua akan dilalui setelahnya


Bercandu pangku menunggu

Tersadar terbangun terburu-buru

Ah! Waktu ini terlalu cepat berlalu

Nampak semu akan bayang-bayangmu

Tinggalku, memaku kaku termangu


Ujung dari perjalanan adalah kembali

Memberi apa yang telah kita miliki

Bersanding dengan mereka yang setia menemani

Dan mereka yang andil mematri kisah ini

Tak dapat menampik, kita bisa berdiri kali ini


September ini, Kembali lagi

Marwah diri terbentuk atas apa yang telah disyukuri

Mengakui setiap diri adalah milik sang Illahi

Menengadah setiap hari

Kembali lagi


Cipta karya Sang Maha Kuasa

Menghadirkan kembali menghias dunia

September ini bercerita ketika kita lupa

Kita ada orang lain bahagia

Dan selesai itu belum apa-apa


Seksama Biomethagreen di pinggir asrama menyapa

Mengulas balik, apa yang telah dilewati bersama

Kita manusia, tebarkan kebermanfaatan untuk sesama

Aku, Kamu, Kita semua

Kembali 


September, 2021

Rozakul Khayat


    Puisi di atas merupakan sepenggal karya dalam Buku Antologoi Puisi "Asa Asmara Asrama #2 : Kembali". Sebuah buku karya Anak-anak asrama ysebagai bentuk menyambung silaturasa dan cara mengabadikan momen ketika di asrama SMK Negeri Jateng di Purbalingga. Bagi yang ingin membaca sepenggal kisah dari anak-anak Asrama "Asa Asmara Asrama #1" dan "Asa Asmara Asrama #2 : Kembali" bisa mengunjungi Perpustakaan SMK Negeri Jateng di Purbalingga atau bisa memesannya melalui Marketplace Shopee Nanopedia Publishing. 


Terimakasih telah mlipir untuk mampir! :)

Kamis, 06 Oktober 2016

Kejujuran Mengantarkan pada Hidayah





Abdullah bin Mas’ud atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Mas’ud. Seorang anak miskin yang tinggal di dekat rumah Rasulullah SAW saat itu. Ibnu Mas’ud adalah seorang anak kecil berjiwa kuat dan jujur. Ia dikenal sebagai seorang penggembala kambing yang cekatan oleh tetangga-tetangganya.  Ratusan kambing ia tangani dan tidak satu pun luput dari pengawasannya. Ia pula yang mengatur makan dan minum gembalaannya tersebut dengan sangat telaten. Setiap hari ia selalu merawat kambing yang bukan miliknya itu dengan penuh kasih sayang.

Pada suatu ketika Rasulullah dan Abu Bakar lewat di sebuah padang yang luas tempat Ibnu Mas’ud menggembala kambingnya. Mereka melihat kambing-kambing gembalaan Ibnu Mas’ud yang gemuk dan sehat. Merasa dahaga dan lelah terbesitlah dalam pikiran mereka berdua untuk meminum susu gembalaan tersebut.

Kemudian mereka berdua menghampiri Ibnu Mas’ud yang terlihat sibuk mengatur kambing-kambingnya. Ketika ditanya adakah kambing yang dapat diperas susunya, Ibnu Mas’ud mengiyakan. Namun sayangnya, Ibnu Mas’ud tidak bisa memberikan susu kambing gembalaannya itu kepada mereka. Anak itu berkata “Susu itu ada, tetapi sayang mereka bukan milikku. Kambing-kambing ini hanyalah amanah dari orang lain hanyalah dititipkan kepadaku.” padahal saat itu Ibnu Mas’ud hanyalah seorang penggembala yang mengurus kambing-kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith, seorang musyrik yang bertetangga dengan Rasulullah.

Rasulullah pun sangat bahagia dengan jawaban anak penggembala tersebut. Padahal, saat itu Ibnu Mas’ud belum memeluk Islam. Beliau salut bahwa keteguhan prinsip pada dirinya dapat mencegahnya dari perbuatan khianat atas kepercayaan yang diamankan kepadanya. Ini adalah bukti kebersihan hati yang akan memudahkan menerima kebenaran Islam. Oleh karena itu, Rasulullah berusaha menjaga prinsip mulia anak tersebut dan menunjukkan kekuasaan Allah kepadanya agar tergerak mengikuti ajaran Islam. Betapa beruntungnya Ibnu Mas’ud, ia bisa mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah berkat kejujurannya dalam mengemban amanah. Seperti yang kita ketahui saat ini, Ibnu Mas’ud menjadi orang yang keenam masuk Islam di awal permulaan syiar Rasulullah. Ia selalu belajar kepada Rasulullah di Darul Arqam tempat kaum muslimin bertemu secara diam-diam agar aman dari kezaliman kaum musyirikin Quarisy.


Nah, begitulah kisah teladan dari sahabat Rasulullah SAW Abdullah Bin Mas’ud semoga kita semua bisa memetik pelajaran dari kisah Abdullah Bin Mas’ud ini. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. #BerbagiItuIndah J

Rabu, 05 Oktober 2016

Kandungan Surat Ali Imron Ayat 190 - 194





[3:190] Sesungguhnya dalam  penciptaan  langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,



[3:191] (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

[3:192] Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau  masukkan   ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan  tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

[3:193] Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

[3:194] Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."

Kandungan Tiap Ayat
* Ayat 190
            Dalam Surat Ali Imran 190 Allah SWT menegaskah bahwa dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaanNya. Tanda-tanda itu bisa dicerapi, dimaknai oleh Ulul Albab (orang-orang yang berfikir). Dalam ayat ini, kita disadarkan bahwa salah satu wasilah mengenal Allah (ma’rifatullah) adalah dengan mentafakuri, memikirkan ayat-ayat KauniNya pada alam. Salah satunya kekuasaan Allah dalam pergantian siang dan malam yang disebutkan dalam ayat ini.

            *Ayat 191
            Telah diterangkan pada ayat 190 bahwa orang-orang yang bisa memaknai tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Ulul Albab (orang-orang yang berfikir). Pada ayat ini Allah menerangkan karakteristik Ulul Albab (orang-orang yang berfikir) tersebut yaitu, pertama, orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah Swt, bagaimanapun keadaanya, berdiri, duduk atau berbaring. Karakteristik kedua dari Ulul Albab adalah mereka yang senantiasa berfikir, bertafakur dan bertadabur atas ayat-ayat Allah SWT. Selain itu, mereka juga adalah yang selalu menghambakan diri kepada Allah dengan doa munajat, seperti terlukis di penggalan ayat ini. Mereka memohon agar dipelihara dari siksa api neraka
           
            *Ayat 192
            Ayat ini masih bersinambung dengan ayat sebelumnya, merupakan lanjutan doa Ulul Albab. Mereka memohon dengan sangat agar dijauhkan dari api neraka. Sebab orang yang masuk neraka adalah orang yang hina dan dihinakan oleh Allah SWT. Ulul Albab menyadari bahwa jika mereka melakukan kezhaliman mereka akan masuk neraka. Dan tidak ada yang bisa menolong mereka kecuali Allah SWT. Karenanya mereka berdoa dengan sungguh-sungguh agar dijauhkan dari api neraka.


            *Ayat 193
            Ayat 193 masih berisi perihal doa Ulul Albab. Mereka mengaku bahwasanya mereka telah mendengar seruan kepada iman. Dan mereka taat dan patuh beriman kepada Allah SWT. Karena itulah mereka memohon agar dosa-dosa mereka diampuni dan kesalahan-kesalahan mereka dihapuskan. Jika pun mereka wafat, mereka memohon agar diwafatkan bersama orang-orang yang banyak berbakti (Al Abror).

            *Ayat 194
            Terakhir, dalam doanya Ulul Albab memohon Allah SWT untuk mengabulkan apa yang telah dijanjikanNya lewat perantara Rasul-rasulNya kepada mereka. Apa janji itu? Dalam tafsir At Thabari, janji yang dimaksud adalah “Kemenangan dalam menghadapi musuh-musuh Allah”. Sementara dalam tafsir Fathul Qodir janji yang dimaksud yaitu “Pahala yang disiapkan bagi orang yang taat kepada Allah”. Selain itu mereka juga memohon agar Allah tak menghinakan mereka di hari hari kiamat. Setelah berdoa mereka memuji Allah SWT bahwa Allah  SWT tidak pernah menyelisihi janji.

Wallahu a'lam bishowab

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. #BerbagiItuIndah

Selasa, 04 Oktober 2016

Etika Melakukan Amalan



Etika dalam Melakukan Amalan

            Imam Ghazali telah menerangkan beberapa etika menjalankan sebuah amalan atau doa. Apabila seseorang hendak melaksanakan amalan sunnah, atau memohonkan sesuatu yang dihajatkannya kepada Allah Ta’ala, hendaknya seseorang tersebut melakukannya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya etika-etika berikut ini:
      ü  Pilih Waktu Tepat

Seseorang muslim dalam berdoa atau saat melaksanakan amalan-amalan sunnah hendaknya memilih waktu yang baik, sehingga apa yang dipanjatkan, bisa dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Seperti pada hari Arafah, hari Jum’at, bulan Ramadhan atau dikeheningan malam hari. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda:

“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at, pada hari Jum’at Nabi Adam diciptakan, dimasukan surga dan pada hari itu pula dia dikeluarkan dari surga. Dan hari kiamat pun akan datang pada hari Jum’at.”(HR.Muslim).

Adapun bulan Ramadhan memiliki keistimewaan untuk memperbanyak doa dikarenakan termasuk bulan mulia. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka selebar-lebarnya, sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya:

Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka selebar-lebarnya, syetan-syetan dibelenggu dan malaikat mengumandangkan panggilan ‘hai pelaku kebijakan, berbahagialah. Dan hai para pelaku kemaksiatan, bertaubatla.”(HR. Ahmad dan Nasa’i)

      ü  Menghadap Kiblat

Seorang muslim ketika berdoa atau saat menunaikan amalan-amalan sunnah hendaklah menghadap ke arah kiblat. Sebab yang demikian adalah sunnah karena menghadap kiblat selalu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      ü  Merendahkan Suara

Seorang muslim ketika memanjatkan suatu amalan hendaklah dengan volume suara yang sederhana. Tidak terlalu keras tidak pula terlalu pelan. Sebab seseorang yang sedang melakukan amalan berarti sedang berdialog dan berhadapan langsung dengan Allah Ta’ala.

Sudah selayaknya bila kita merendahkan suara sehingga hati kita bisa khusyu’ dan merasa lebih dekat dengan Allah. Anggota badan seluruhnya tenang, dan menjaga kebersihan hati dan kesucian rohani. Dalam hal ini, Allah Ta’ala telah memberikan tuntunan agar hamba-hamba-Nya senantiasa berdoa dengan penuh etika. Dalam al-Qur’an telah ditegaskan yang artinya:


“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut.”(Qs.al-A’raf:55)
    
      ü  Bersikap Khusyu’ dan Tadharru’

Sesorang muslim ketika melakukan amalan-amalan sunnah hendaknya menunjukan sikap merendahkan diri dan kehusyu’an hati. Tidak tergesa-gesa, serta penuh keyakinan dan ikhlas.

Merndahkan diri dan khusyu’ dalam menjalankan sebuah amalan memang diperintahkan Allah Ta’ala kepada setiap hambanya. Di dalam al-Quran telah ditegaskan:







“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut tidak diterima dan penuh harapan akan dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(Qs.al-A’raf: 55-56)

       ü  Bertobat


Seorang muslim hendaknya bertobat sebelum melaksanakan sebuah amalan (ibadah) sunnah. Contohnya adalah dengan membaca istighfar dengan sepenuh hati menyadari akan dosa-dosa yang telah dilakukan.


Terima kasih untuk Buku "The Miracle of Al Fatihah, Ayat Kursi dan Al Waqiah". Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. #BerbagiItuIndah

Sabtu, 28 Mei 2016

Bahaya Riba



BAHAYA RIBA DI AKHERAT

Selain bahaya di dunia, maka riba juga mengakibatkan bahaya mengerikan di akhirat, antara lain:
1.    Bangkit Dari Kubur Dirasuki Setan.
Ini telah diberitakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Alquran dan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam sabdanya :
عَنْ عَوْفِ بن مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :”إِيَّايَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ: الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ”, ثُمَّ قَرَأَ: “الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ”
Dari ‘Auf bin Malik, dia berkata: Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dosa-dosa yang tidak terampuni: ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi; khianat; korupsi). Barangsiapa melakukan ghulul terhadap sesuatu barang, dia akan membawanya pada hari kiamat. Dan pemakan riba. Barangsiapa memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila, berjalan sempoyongan.” Kemudian Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (ayat yang artinya), “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”. (al-Baqarah/2:275) (HR. Thabrani).
2.    Akan Berenang Di Sungai Darah.
Dari Samurah bin Jundub, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang engkau lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba’”. (HR. al-Bukhari).
3.    Nekat Melakukan Riba Padahal Sudah Sampai Lrangan, Diancam Dengan Neraka.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah/2:275)

Inilah berbagai ancaman mengerikan bagi pelaku riba. Alangkah baiknya mereka bertaubat sebelum terlambat. Sesungguhnya nikmat maksiat hanya sesaat, namun akan membawa celaka di dunia dan di akhirat. Hanya Allah‘Azza wa Jalla tempat memohon pertolongan.
Begitulah beberapa bahaya Riba di Akherat. Semoga kita bisa mengambil pelajarannya.

Senin, 23 Mei 2016

Fadhilah Surat Al Fatihah

Khasiat dan Fadhilah Surat Al-Fatiah

Sebagai surat yang paling istimewa, Al-Fatihah sesungguhnya memiliki banyak khasiat dan fadhilah yang bisa kita petik dan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa khasiat dan fadhilah dari surat Al-Fatihah.

    1.  Memperoleh Ilmu Hikmah

Sebagai ummul qur’an, kandungan yang terdapat dalam surat Al-Fatihah memiliki khasiat untuk mendatangkan ilmu hikmah. Barang siapa yang membaca surat Al-Fatihah dalam keadaan berwudhu sebanyak 70 kali setiap hari selama tujuh hari, kemudian ditiupkan pada air yang suci lalu diminum, maka insyallah, ia akan memperoleh ilmu dan hikmah serta hatinya dibersihkan dari pikiran yang negatif (kotor).

Ilmu hikmah adalah suatu amalan spiritual yang berupa ayat Al-Qur’an, doa-doa tertentu, hizib maupun bacaan shalawat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati. Ilmu hikmah bisa dipelajari dengan amalan berupa dzikir, tabarruk, membersihkan hati, bersikap bijaksana atau riyadhoh.

Ilmu hikmah banyak sekali manfaatnya, mencakup segala urusan dunia dan akhirat. Ilmu hikmah bisa untuk menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan, membantu kita kuat dalam mengarungi kehidupan yang penuh cobaan. Sarana untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, mempermudah jalan usahaa (rezeki), memperbaiki perilaku (akhlak), memerangi hati yang gelap menjadi terang dan sebagai sarana m endapatkan ridha Allah Ta’ala.

Merujuk pendapat Imam al-Jurjani rahimahullah, makna al-hikmah secara bahasa artinya ilmu yang disertai amal (perbuatan). Atau perkataan yang logis dan bersih dari kesia-siaan. Orang yang ahli ilmu hikmah disebut al-Hakim¸ bentuk jamaknya adalah al-Hukama. Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah.

    2.  Terkabulnya Hajat

Seseorang yang memiliki hajat (keinginan sesuatu) selain bisa melaksanakan shalat hajat, maka untuk terkabulnya sebuah hajat seseorang muslim juga bisa merealisasikan hajatnya tersebut dengan mengamalkan surat al-Fatihah.
Diriwayatkan dari Syekh Muhyiddin Ibnul Arabi di dalam kitab Qaddasallahusirrahu:
        “Siapayang punya maksud maka sebaiknya ia membaca surat Al-Fatihah sebanyak 40 kali sehabis sembahyang Maghrib dan sunnahnya, selesai itu ia ajukan permohonan hajatnya kepada Allah Ta’ala.”

Barang siapa yang membaca Al-Fatihah hendak tidur, surah Al-Ikhlas sebanyak 3 kali dan mu’awwidzatain, maka ia akan aman dari segala hal selain ajal. Adapun seseorang yang berhajat (berkeinginan sesuatu) kepada Allah Ta’ala, maka akan dipenuhi keperluan (hajatnya).

    3.  Obat Dari Berbagai Persoalan

Barang siapa membaca Al-Fatihah beserta bismillah di antara shalat sunnah subuh dan fardhu subuh dengan istiqomah, maka jika ia menginginkan pangkat, terkabullah permohonannya. Jika seseorang tersebut punya hutang, maka ia akan mampu untuk melunasinya. Adapun ia sakit, maka ia akan sembuh. Sedang jika ia punya anak, maka anaknya itu menjadi anak yang saleh, berkat surah Al-Fatihah dan tentunya atas izin Allah Ta’ala.

    4.  Mempermudah Meraih Cita-Cita

Khasiat dari Surat Al-Fatihah lainnya adalah untuk membantu meraih cita-cita. Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah selesai shalat fardhu lima waktu, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan cita-cita yang diharapakan.

    5.  Membuka Pintu Rezeki

Khasiat Al-Fatiah adalah sebagai pembuka pintu rezeki. Dimana jika seseorang bersedia mengamalkan bacaan Al-Fatihah di waktu sahur (sepertiga malam), maka Allah Ta’ala akan membukakan pintu rezeki baginya. Sertailah dengan do’a berikut ini:
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran surah Al-Fatihah dan rahasianya supaya Engkau bukakan pintu-pintu rahmat-Mu, karunia-Mu dan rezeki-Mu. Dan Engkau mudahkan setiap urusanku, murahkanlah bagiku rezeki-Mu yang banyak lagi berkat tanpa kekurangan dan tanpa susah payah, sesungguhnya Engkau berkuasa atas setiap sesuatu. Aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran surat Al-Fatihah danrahasianya, berikan apa yang kuhajati......”

    6.  Menyembuhkan Penyakit

Surat Al-Fatiha bisa digunakan untuk mengobati penyakit mata, sakit gigi, sakit perut, dan lain-lainnya. Tentunya semua itu dengan izin Allah Ta’ala. Baca surat Al-Fatihah sebanyak 40 kali pada tempat berisi air, lalu air itu diusap–usapkan pada kedua belah tangan, kedua belah kaki, muka, kepala, dan seluruh badan, lalu diminum. Insyaallah atas izin Allah Ta’ala segala penyakit akan sembuh total.

    7.  Menghilangkan Sifat Lupa

Khasiat lainnya dari surat Al-Fatihah adalah untuk membantu menghilangkan sifat pelupa. Apabila anda merasa sering lupa, maka bacaan agung surat Al-Fatihah ini bisa membantu anda untuk tidak menjadi pelupa.

Demikian sobat muslim beberapa khasiat dan fadhilah dari surat Al-Fatihah. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Aamiiiin.

Terima Kasih yang sebesar-besarnya untuk Buku “The Miracle of Al Fatihah, Ayat Kursi dan Al Waqi’ah”